Tata Cara Dalam Mengenakan Ihram Yang Harus Anda Ketahui

Tata Cara Dalam Mengenakan Ihram Yang Harus Anda Ketahui, Ihram merupakan jenis pakaian yang harus dikenakan oleh jamaah haji sebelum memasuki tanah Suci. Tempat-tempat memakai ihram atau miqat makani sudah ditentukan sejak zaman Rasulullah SAW.

 

Tata Cara Dalam Mengenakan Ihram Yang Harus Anda Ketahui

 

Tidak ada yang istimewa dari pakaian ini. Bagi jamaah haji pria, ihram hanyalah dua helai kain putih. Yang satu berfungsi untuk menutupi bagian pinggang hingga mendekati mata kaki, atau disebut juga dengan izar dan helai kain yang kedua untuk menutupi bagian atas.

Hujjatul Islam, Imam Ghazali, dalam Ihya Ulumuddin telah memamparkan bahwa, putih adalah warna yang disukai Allah. Walaupun hanya pakaian sederhana, berihram ternyata akan lebih baik apabila disertai dengan sejumlah amalan. Sebelum melalukan ihram, jamaah haji dianjurkan untuk mandi dengan niatan untuk memakai ihram. Ini dilakukan ketika mereka sudah sampai di miqat makani.

Selama membersihkan diri, jamaah haji membersihkan anggota tubuhnya. Kemudian merapihkan jenggot, kumis, rambut, dan memotong kuku serta hal lainnya. Selesai mandi, jamaah dapat langsung memakai kainihram. Selama mengenakan kain ihram, mereka tidak lagi mengenakan pakaian yang berjahit.

Selama mengenakan kainihram, jamaah haji tidak boleh mengenakan wewangian. Namun, apabila masih ada wewangian tersisa di badan, maka tidak masalah. Dalam sebuah hadist diceritakan sebelum memulai kain ihram, ada sisa wewangian atau misik di sela-sela rambut Rasulullah SAW. Wewangian itu tidak dihilangkan meski pun Rasululah SAW setelah memakai kain ihram. (HR. Bukhari dan Muslim, dari Aisyah).

Dalam sebuah hadits diceritakan, istri Rasulullah, Aisyah, terbiasa menggosokkan minyak wangi kepada Rasulullah di kainihram, juga ketika tahallul sebelum beliau melakukan thawaf. (Bukhari dan Muslim).
Ketika berjalan menuju Tanah Suci, jamaah sudah bisa meniatkan untuk apa berihram. ada yang memiliki niat untuk berhaji. Ada juga yang berumroh ataupun keduanya.

Jamaah disunahkan mendirikan shalat dua rakaat dengan niat sunahihram. Pada rakaat pertama, jamaah membaca Surah Al-Kafirun setelah membaca Al-Fatihah. Pada rakaat kedua, jamaah dianjurkan untuk membaca Surah Al-Ikhlas setelah membaca Al-Fatihah.
Jamaah disunnahkan untuk selalu mengucapkan talbiyah, labbail Allahumma labbaik… dan seterusnya. Lafadz ini tidak wajib diucapkan dengan keras. Cukup dengan suara perlahan agar tidak mengganggu kenyamanan orang di sekitar.

Selama menjalankan ibadah haji, jamaah dianjurkan untuk bisa malaksanakan berbagai macam amalan sunah. Hal ini dimaksudkan agar dapat memaksimalkan ibadah selama berada di Tanah Suci. Ibadah di Tanah Suci akan diganjar dengan pahala yang lebih besar dibandingkan beribadah di tempat lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *