Arsip Tag: naik haji berapa lama

Ketika Orang Mekah dan Madinah Pergi Naik Haji

Orang Mekah dan Madinah naik haji?” Pertanyaan ini sering kali terdengar dari banyak pihak ketika berada di Mekah baik untuk ibadah umrah maupun haji. Bukan hanya itu saja, sebagian Muslim lainnya percaya bahwa setiap orang yang mukim atau tinggal di Mekah semuanya pasti sudah pernah melakukan naik haji karena jarak mereka kan sangat dekat.

 

Ketika Orang Mekah dan Madinah Pergi Naik Haji

 

Banyak warga Mekah dan juga Madinah yang sudah berumur dan dalam kategori mampu untuk mengerjakan rukun Islam kelima, belum juga menunaikan haji. Alasannya yang bermacam-macam. Dari yang merasa belum dipanggil hingga merasa masih muda hingga merasa harus menunda-nunda.

Ketika pertama kali menemukan hal tersebut, bahkan pernah ada warga Madinah yang mengurusi ibadah haji dan umrah.

Sama halnya dengan orang Islam di Indonesia, meski Islam dan mampu secara batiniah dan lahiriah banyak di antara kita yang belum merasa untuk naik haji. Dengan berbagai alasan yang mereka kemukakan, dari yang takut hartanya akan berkurang sampai merasa dosanya masih sedikit, warga Mekah juga seperti itu. Terkadang lucu juga jika melihat kenyataan ini. Begitu besar animo orang di luar Mekah naik haji, namun warganya sendiri malah sanati-santai saja.

Ya istilahnya kayak onta tersebut. Meski berulangkai berada hingga tinggal di Mekah belum tentu dia pernah melakukan naik haji. Di sini membuktikan bahwa naik haji memang sudah panggilan bagi orang yang beriman dan ikhlas hatinya menurut Allah SWT.

Bukan hanya itu saja, banyak juga di antara warga Jiran (warga yang tinggal di seputaran) Kota Mekah yang ke Masjidil Haram hanya setahun sekali, yakni ketika datangnya bulan suci Ramadhan. Di luar itu mereka sama sekali tak pernah ke sana.

Warga yang terdapat di dua Kota Suci ini ketika hendak naik haji juga membutuhkan dukungan yang khusus. Ada warga Arab yang tinggal di Madinah pergi untuk naik haji. Karena belum menikah,meski sudah berusia sekitar 25 tahun, dia meminta izin pada ayahnya. Saat itu juga ia menemui ayahnya untuk meminta izin memberangkatkan haji anak lelakinya. Bayangkan, selama itu anak tersebut bolak-balik ke Mekah dari Madinah, ternyata belum naik haji meski sudah mampu dan dewasa.

Tidak beda jauh dengan kebiasaan Muslim Indonesia yang setiap hendak naik haji melakukan walimatul safar, ‘si pelayan Arab’ itu begitu mau dan diizinkan ayahnya naik haji, dia pun mengumpulkan keluarganya untuk meminta restu dari semuanya. Di situ juga ada acara yang sederhana yakni ngumpul-ngumpul seperti kebiasaan orang Indonesia.

Khusus untuk orang Mekah, di sana juga memiliki ketentuan kuota haji. Di sana ada peraturan bahwa naik haji bagi warganya tidak bisa dilaksanakan pada setiap tahun. Setiap orang warga Mekah hanya bisa mengerjakan haji selama lima tahun sekali. Kalau tetap nekad untuk bisa melakukan haji tanpa izin dan kemudian tertangkap razia pasti mereka juga akan berurusan dengan pihak keamanan Makah.

Razia ini selalu ada pada tiap tahun. Bagi orang Arab yang berada di luar kota Mekah pun harus punya izin untuk bisa melaksanakan naik haji. Pada menjelang puncak ibadah haji selalu ada pemeriksaan bagi setiap orang yang hendak masuk Mekah.

Bagi mereka yang tidak memiliki izin, maka akan masuk Mekah secara sembunyi-sembunyi, melalui jalur tikus lewat perkampungan dan bukit-bukit yang terpencil untuk bisa menghindari penjagaan. Dan sekarang ini dari tahun ke tahun semakin sulit seiring dengan semakin ketatnya pemberian visa haji maupun visa tinggal di Arab Saudi.

Lalu di mana warga Mekah ketika pada saat musim haji tiba? Pertanyaan ini juga sering kali diajukan ketika jamaah haji berada di kota tersebut setelah melihat jarangnya warga Mekah yang bisa mereka jumpai.

Sebab, setiap kali mereka berbelanja mereka ternyata hanya menemui ‘mukimin’ Mekah, yakni warga pendatang yang bekerja di Mekah yang berasal dari berbagai negara seperti negara-negara Afrika (Maroko, Mesir, Yaman, Maroko, dan yang lainnya) hingga warga Eropa seperti Bosnia dan Rusia, atau warga asal Asia seperti India, Pakistan, Indonesia, Mymnar, Filipina, Bangladesh dan lainnya.

Jadi jangan salah sangka, ketika musim haji tiba dan biasanya berbarengan dengan masa liburan, warga Mekah pergi ke luar kota. Mereka sewakan rumah-rumahnya untuk ditinggali para jamaah. Maka tidak heran bila ketika rumah itu disewa, pasti ada satu lantai yang dikunci karena penuh dengan perabotan rumah tangga mereka. Sehingga tidak heran bila di musim haji sangat jarang warga asli Mekah yang bisa untuk ditemui.

Pelajaran yang paling penting lainnya adalah jamaah umrah dan haji tetap bersikap waspada ketika berada di Mekah. Sebab, banyak juga warga yang tinggal di Mekah yang sering iseng dan bahkan kerap nekad untuk melakukan tindak kejahatan.

Pahamilah bahwa Mekah itu memang tanah suci, tapi warganya adalah manusia biasa seperti yang lainnya. Apalagi di musim haji ketika manusia dari berbagai negara berkunjung ke situ, semua kemungkinan bisa terjadi.