Heboh virus mers hanya di Indonesia

Imbauan Pemerintah Republik Indonesia agar jemaah haji dan umrah mengenakan masker untuk menangkal virus mers saat berada di tempat umum dan keramaian nampak tak digubris. Pantauan Harian Terbit dalam beberapa hari ini di pusat-pusat ibadah yang berada di Mekkah dan Madinah, Arab Saudi, hanya segelintir orang yang mengenakan masker www.travelumrahhaji.com.

 

virus mers

 

Pemandangan di sekitar Masjid Nabawi, Madinah, Ka’bah dan Masjidil Haram, Mekkah, misalnya. Ratusan hingga jutaan para jemaah memadati dua tempat ini, namun yang mengenakan masker bisa dihitung dengan jari.

Begitupun dengan jemaah Lansia dan Balita, meski Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mengeluarkan travel advice agar dua kategori ini menunda untuk mendatangi wilayah Arab Saudi atau melaksanakan umrah dan haji, tetapi jumlahnya tetap banyak.

Beberapa jemaah umrah yang berhasil diwawancarai, rata-rata tidak mengkhawatirkan ancaman penyakit Sindrom Pernapasan Timur Tengah atau Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-CoV). Mereka pasrah dan mempercayakan kesehatannya kepada sang Khalik.

“Hidup dan mati kita serahkan dan pasrahkan kepada Allah. Ini kota suci, saya yakin Allah akan menjaga saya. Keyakinan ini juga menambah kekhusyukkan ibadah saya,” tutur Fadillah, jemaah asal Indonesia kepada Harian Terbit, kemarin.

Muhammad Kamal, seorang pembimbing ibadah bagi para jemaah asal Indonesia yang telah tinggal selama lima tahun di Madinah, Mekkah, justru menyayangkan hebohnya pemberitaan terkait virus MERS di Arab Saudi.

“Sebenarnya kita tidak perlu takut terhadap virus MERS tersebut, yang akhirnya mengurungkan niat kita untuk beribadah, karena Allah akan menjaga kita,” ujarnya.

Tak hanya itu, dirinya juga meminta bila terjadi kasus wafatnya jemaah tidak selalu dikaitkan dengan virus MERS. “Saya sangat menyayangkan berita belakangan ini bahwa jemaah yang wafat di tanah air usai melakukan umroh selalu dikaitkan dengan MERS. Padahal, sebelum maraknya virus ini banyak juga para jemaah yang meninggal usai beribadah. Mungkin faktor usia atau yang lainnya, bukan karena MERS. Dan itu adalah rahasia Allah,” tuturnya.

Kepala Pusat Kesehatan Haji, Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dr. Fidiansjah, mengaku hanya bisa mengimbau kepada para calon jemaah umrah dan haji untuk mengikuti saran pemerintah dalam menjalankan ibadah, yaitu rajin cuci tangan, menghindari berinteraksi dengan unta, dan sebisa mungkin menggunakan masker.

Namun, kata dia, pemerintah tidak bisa mencegah para jemaah umrah dan haji Indonesia yang Lansia dan Balita untuk melaksanakan ibadah. Sebab, dari pemerintah Arab Saudi dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga belum mengeluarkan kebijakan pelarangan, melainkan baru sekadar imbauan. Ditambah, orang beribadah itu tidak boleh dilarang.

“Kita sudah kasih tahu dan kita juga tidak bisa melarang orang untuk ibadah,” katanya dihubungi Harian Terbit, Minggu (18/5).

Dia menambahkan, Kemenkes sendiri tidak bisa mengeluarkan kebijakan untuk melarang Lansia dan Balita untuk pergi berangkat umroh, meski risiko tinggi tertular virus MERS. “Kalau belum ada larangan dari Internasional, kita tidak bisa melarang. Kalau sudah ada, pasti kita melarang,” tegasnya.

Terlebih, di Indonesia sendiri hingga saat ini belum ada pasien positif terinfeksi penyakit yang disebabkan oleh virus MERS. Dari hasil uji labaoratorium Kemenkes pada 100 pasien yang terindikasi mengidap MERS, sebanyak 74 sample pasien negatif dan sisanya masih diuji.

Sementara itu, Staf Ahli Menkokesra Bidang MDGs, Dr. Rachmat Sentika, Sp, A, MARS, menyarankan Kemenkes untuk mengeluarkan peraturan berupa Permenkes (Permenkes) atau sejenisnya agar tidak dilanggar. “Kemenkes hanya keluarkan surat edaran ke biro-biro perjalanan umroh, itu tidak bisa, pasti dilanggar. Harusnya Kemenkes keluarkan suatu peraturan,” ujarnya.

Hingga saat ini, kata dia, Kemenkes dan Kementerian Agama masih menunggu keputusan dari pemerintah Arab Saudi dan WHO untuk melarang Lansia dan Balita berkunjung ke wilayah Arab Saudi.

“Ini yang sedang ditunggu. Kita tidak bisa melarang mereka hanya surat himbauan atau edaran. Lansia juga maunya meninggalnya disana,” pungkasnya.

Menurutnya, Kemenkes harus lebih tegas terhadap para biro-biro perjalanan umroh/haji untuk tidak memberangkatkan Lansia dan Balita dengan membuat suatu peraturan. Namun, upaya Kemenkes untuk mengeluarkan kebijakan itu, terganjar dari kebijakan Internasional bahwa saat ini baru dalam bentuk himbauan belum berbentuk larangan.

“Di Arab Saudi baru ada travel warning, belum ada travel boarming. Tapi yang penting itu kondisi badan sehat, vaksinasi saja flu. Kedua, mereka sudah bayar, sehingga mereka memberanikan jalan,” tuturnya.

Dia menambahkan, Kemenkes dan Kemenag juga sedang menunggu dikeluarkannya pelarangan jamaah umroh Lansia dan Balita untuk berangkat ke Arab Saudi dari pemerintah Arab Saudi dan WHO. “Ini yang sedang ditunggu. Kita tidak bisa melarang mereka hanya surat imbauan atau edaran. Lansia juga maunya matinya disana,” pungkasnya.

Senin, 19 Mei 2014, Jakarta, Harian Terbit

biaya untuk paket ibadah umroh sekarang 2015 termurah

Facebook Comments