Acuan Utama Kuota Haji Indonesia Ada di Siskohat

Kuota haji Indonesia, Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) yang merupakan sebuah media Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), dia bukan satuan kerja, melainkan lebih tepatnya adalah sebagai alat pendukung kerja.

 

Acuan Utama Kuota Haji Indonesia Ada di Siskohat

 

Setiap yang terkait dengan koneksi jaringan dan data haji di Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Ditjen PHU) akan memanfaatkan fasilitas teknologi tersebut. Pendaftaran, pembatalan, pelunasan dan yang terkait dengan haji niscaya akan memberdayakannya untuk melakukan validitas data.

Mungkin banyak orang yang belum mengetahui apa itu Siskohat. Inilah gambaran singkat tentang Siskohat yang dibangun pasca peristiwa musibah atas wafatnya ratusan jamaah haji di terowongan Mina pada tahun 1990 lalu. Kini Sikohat sudah mengalami pengembangan yang baik pada aspek pencatatan keuangan atas pendaftaran, pelunasan dan pembatalan ibadah haji.

Bukan hanya itu saja, berintegrasi dengan penerbangan haji kaitannya itu pembentukan pra manifest, perbankan dalam hal mengenai mutasi keuangan dan pastinya dengan seluruh bidang haji provinsi, kabupaten maupun kota.

Banyak sudah yang telah dilakukan pada sistem ini, termasuk percepatan pengurusan visa yang diterapkan oleh Arab Saudi melalui e-hajj. Banyak juga negara yang melakukan kajian dan studinya untuk dapat mempelajari mekanisme dan cara kerja pada sistem ini bisa dijadikan bahan perbaikan penyelenggaraan haji di negaranya masing-masing, sebut saja Malaysia, Mesir dan Brunai Darussalam. Bahkan sistem ini juga pernah diminta dan dipakai oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam pemilihan umum tahun 1999 yang berbasis teknologi dalam penghitungan hasil dan rekapitulasi suara pada saat itu.

Perbedaan data kuota haji indonesia setiap tahunnya seringkali didapati ada perbedaan kuota haji indonesia dengan instansi yang terkait, namun pada prinsipnya yang menjadi acuan adalah dari sistem informasi dan komputerisasi haji terpadu (siskohat).

Bahkan sudah ada yang menggunakan siskohat di Kantor Kementrian Agama (Kemenag) pada generasi kedua yang jauh lebih maju lagi teknologinya, sehingga akurasi dan ketepatan datanya tidak diragukan lagi.

Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umrah pada Kantor Kementrian Agama Kudus yaitu H Ahmad Sururi kemarin memberi penjelasan, memang terkadang ada perbedaan data yang berulangkali terjadi, namun hanya saja dalam hal ini Kemenag Kudus berpatokan pada siskohat.

“Walaupu belum definitif setidaknyaa pada jumlah kuota keberangkatan yang sudah diatur dalam siskohat bisa menjadi sebuah acuan berbagai keperluan untuk mendukung kegiatan haji setiap tahun.

Pihaknya mencontohkan, saat ini Kemenag Kudus sudah memiliki data keberangkatan haji yang tahun ini akan berangkat ada sebanyak 1.330 orang calon jamaah haji, sedangkan ada yang sudah memiliki data sekitar 1.300an sekian yang jumlahnya tidak sama.

Sudah seharusnya instansi tersebut mulai melakukan penyesuaian jumlah kuota haji bagi jamaah yang sudah daftar haji dan yang akan berangkat agar kedepannya tidak menjadi kendala di kemudian hari.

Ia juga menambahkan, memang pada data kuota keberangkatan haji yang sangat memiliki pengaruh yang cukup signifikan, utamanya pada soal yang mengenai kebutuhan haji. Misalnya saja untuk layanan kesehatan, seperti melakukan pengecekan kesehatan haji, serta pemberian vaksin haji, katanya.

Kemudian soal penyediaan kebutuhan yang lainnya, misalnya soal petugas haji, penginapan saat di tanah suci. “Ini dimaksudkan agar tidak menjadi sebuah kendala saat pelaksanaan ibadah haji sedang berlangsung,” tandasnya.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *